Amati, dan Ajak Kerja Sama!

Ya, kita sering melihat disekitar kita, tukang bubur yang laris, atau tukang gorengan yang sangat ramai. Coba amati dengan seksama bisnis yang dijalankannya, dan cobalah bekerjasama dengan pemiliknya.

Cara bisnis model ini jarang dipraktekkan, padahal menurut hemat saya, cara ini adalah cara yang paling fair dari pada meniru dan memodifikasinya. Hasil yang diperolehpun akan lebih baik karena kosentrasi kita tidak terpecah pada memodifikasi produk atau bahkan mengembangkan produk baru, yang belum tentu kita ahli dalam hal tersebut.

Sebagai gambaran, di lingkungan kita banyak tuh pedagang / usaha mikro yang berprospek bagus untuk dikembangkan lebih jauh, namun pemiliknya tidak punya kemampuan mengembangkannya karena keterbatasan ilmu, teknologi, akses dan sebagainya. Ambillah contoh, warung ayam goreng langganan kita. Laris, enak, punya pelanggan loyal dan sering kehabisan karena begitu larisnya. Ini jelas sangat berpotensi untuk dikembangkan lebih jauh. Namun, mengapa pemiliknya dari tahun ke tahun hanya begitu-begitu saja? Kok tidak berusaha mengembangkannya?

Amati, dan ajaklah bekerjasama untuk pengembangan bisnis dan kreatifitas

Amati, dan ajaklah bekerjasama untuk pengembangan bisnis dan kreatifitas

Nah entrepreneur, sebagai seorang yang pintar mencari dan membaca peluang, tentulah hal ini tidak boleh disia-siakan begitu saja. Ente-ente pasti mampulah untuk mengembangkan usaha tersebut dengan mudah. Mengapa tidak diajak kerja sama saja?

Cobalah berusaha mendekati pemiliknya dan ajaklah bekerja sama. Jika berhasil, maka keunggulan kualitatif kita akan bertemu dengan keunggulan kompetitif pemilik usaha ayam goreng tersebut. Hasilnya, pasti luar biasa. Kita punya daya khayal dan imajinasi kreatif, pemilik punya produk hebat. Jadi klop banget, kan?

Tawarkanlah model kerjasama seperti ini, pemilik usaha bertugas konsentrasi dipengembangan produk, kualiti kontrolnya, karena memang itulah keahliannya. Sementara kita nih, mengerjakan aspek manajemen pemasaran, SDM dan keuangan, serta memperindah tampilan. Kita kan punya akses disana, pastilah lebih mudah.

Bayangkan hasil yang didapat dari kolaborasi kemampuan yang berbeda ini. Dahsyat, kan??!
Seperti botol ketemu tutupnya. Bisnis akan lebih mudah berkembang, hasilnya dibagi sesuai kesepakatan. Mudah, kan?

Oke, mari kita bahas soal kekuatan dan kelemahan model ini.

Kekuatan (Strength)

Model ini akan sangat bergantung pada kemampuan kita dalam melihat potensi. Tentulah yang kita pilih adalah usaha yang ramai, laris dan bagus. Semua dapat kita lihat secara nyata di lapangan. Inilah yang jadi kekuatannya. Produk atau bisnisnya sangat berprospek, hanya membutuhkan sedikit  polesan saja untuk jadi besar. Ibaratnya nih, dia adalah seorang gadis desa yang cantik alami. Sedikit sentuhan saja, maka dia akan makin cantik dan menarik perhatian banyak orang.

Kelemahan (Weakness)

Kelemahan kita untuk menilai sebuah prospek bisnis  akan menjadi kelemahan utama. Mengapa?  Kita bisa saja memperkirakan bahwa sebuah bisnis prospek ke depannya bagus, karena saat ini pelanggannya banyak. Tapi, hati-hatilah. Mungkin saja bisnis atau produk itu sesungguhnya hanya trend sesaat, orang mudah bosan, dan bukan kebutuhan jangka panjang. Ya, produk-produk seperti ini biasanya adalah produk yang lahir karena trend, sehingga umurnya tidak panjang. Sangat mudah ditiru dan diduplikasi, tidak mempunyai ciri khusus yang kuat.

Bagaimana menghindari kesalahan ini? Kuasailah ilmu tentang trend bisnis. Gunakan intuisi sebagai seorang entrepreneur. Pelajari dengan hati yang tenang, rasakan perubahan yang terjadi di sekitar kita dengan seksama, maka kita dapat mengetahui bagaimana trend bisnis itu terjadi. Contoh bisnis trend sesaat: Anthurium, Louhan, dsb. Sementara contoh yang sebaliknya, bisnis yang evergreen seperti: Ikan KOI, Arwana, perkutut.

Peluang (Opportunity)

Bisnis model ini sangat besar peluang suksesnya. Bayangkan, jika hanya dengan pengelolaan seadanya saja, bisnis ini ramai diserbu pelanggan, bagaimana jika ada sentuhan profesional di dalamnya? Dahsyat, Bos!

Ancaman (Threat)

Bisnis model ini benar-benar harus dilandasi pikiran bersih, ingin maju bersama. Niatkan bekerja sama untuk kemajuan bersama, bukan untuk menguasai apalagi untuk berbuat curang. Karena ancaman terbesar di bisnis ini justru datang dari model kesepakatan kerjasama internal manajeman yang kita bangun. Jauhlah dari sifat serakah, karena sekali saja ada sifat itu, baik dari kita maupun rekan bisnis, maka selesai!

Bisnis ini benar-benar bisnis kepercayaan, dan dilandasi niat saling membantu. Buatlah kontrak yang jelas diawal sehingga semua bisa menjalankan fungsinya dengan baik. Dan yang penting, bisnis langgeng hingga waktu yang sangaaaaaatttt laaammmmaaaaa……

Kebutuhan modal Finansial

Karena produknya sudah ada, bisnisnya sudah jadi, sebenarnya bisnis ini tidak membutuhkan modal besar. Atau kalaupun perlu, akan sangat mudah mencari akses permodalan di Bank, karena bisnisnya memang sudah berjalan dan ramai. Modal keterampilan, keahlian dan akses adalah modal terbesar dalam mengembangkan bisnis model ini.

=======

Oke entrepreneur, siap mengamati dan mengajak kerja sama?

10 Comments

icha

Saat ini saya berencana untuk melakukan seperti yg di jabarkan di atas. Saya juga sudah menemukan usaha yg cocok dan siap utk di ajak kerjasama. Hanya saja, saya masih bingung. Bagaimana bentuk kerjasamanya ya pak? Pihak produsen sebagai outsource produk dan saya menjual kembali. atau bagaimana? mohon pencerahannya..

Reply
Pak Lurah

icha:
Saat ini saya berencana untuk melakukan seperti yg di jabarkan di atas. Saya juga sudah menemukan usaha yg cocok dan siap utk di ajak kerjasama. Hanya saja, saya masih bingung. Bagaimana bentuk kerjasamanya ya pak? Pihak produsen sebagai outsource produk dan saya menjual kembali. atau bagaimana? mohon pencerahannya..

Bisa seperti itu, bisa bantu menjualkan ente dapet komisi,bisa kerjasama pemasaran, tergantung kesepakatanlah…..

Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *