Artikel Marketing Dan Bisnis: Marketing Bisu

Ssttt..! Marketing Bisu

“Pak, apakah orang yang pendiam seperti saya bisa jadi marketer hebat?”, tanya seseorang kepada saya.

Jujur pertanyaan ini menggelitik. Betapa tidak, bagi sebagian besar customer, marketer (sales) punya sisi gelaptersendiri, yaitu : talking too much and full of shit sometimes.

marketing jujur, dan tak harus banyak bicara

marketing jujur, dan tak harus banyak bicara

Janji surga, kalau sudah laku dan capai target, langsung ngilang lenyap tak ketahuan rimbanya. Hahaha..tunggu, jangan tersinggung dulu..karena salah satu profesi saya adalah marketer. Dan stigma itu..seringkali masih melekat erat di jidat kita, mungkin karena itulah maka saya seringkali menggunakan jurus : marketing bisu.

Maksudnya gini, bukan sama sekali tidak bicara, tapi mengurangi bicara kita
hingga 75%..! Apa mungkin? Sangat mungkin!

Pernah terkesan akan penampilan unik seseorang setiap bertemu? Nah itu silent marketing. Pernah mendapat sesuatu lewat tulisan seseorang di facebook atau milis? Nah itu juga silent marketing.

Pernah terngiang-ngiang komentar singkat yang diucapkan dengan nada suara + dialek seseorang?

Itupun silent marketing.

Membawa seekor German Shpperd (doggie) kesayangan jalan-jalan keliling kompleks sehari 2 kali, memelihara ayam ketawa di rumah sebagai maskot, update status di BB, upload video di youtube…dan sebagainya dan seterusnya…semuanya ternyata punya DAYA JANGKAU yang tidak dapat diremehkan.

data base toko online 1nop-2des17

Adalah seorang Lawrence Chan, seorang photographer dan juga marketer menuliskan sesuatu yang sangat inspiratif : Silent gratitude isn’t much use to anyone, so thank someone today. Since this is a marketing strategy blog, social media can play a huge role in the recognition of gratitude. A simple tag, @reply or etc. can be seen by the public..

 FAKTANYA menjadi seorang marketer yang hebat –dijaman gadget seperti sekarang- tidak diperlukan “HANYA” banyak  omong.

Sebuah artikel misalnya, hanya sekali tekan enter…sampailah ia di Amrik. Suara seorang marketer (sekalipun berteriak)..mungkin sudah tak terdengar di tikungan kompleks.

Seorang berpakaian merah diantara kumpulan mereka yang berpakaian biru, seorang gondrong diantara orang-orang gundul..dalam istilah fotografinya..tentunya sangat ‘STAND OUT’ dari background. Demikian juga seorang marketer pendiam, diantara para marketer yang berkicau.

“Dia itu gak banyak omong, tapi tanggung jawabnya bisa diadu..!”

Komentar seperti itu tentu sangat jauh lebih berarti dibanding : “Jangan percaya dia. Lebay! Ngomongnya selangit, janji surga doang..!”

Bahkan pada titik tertentu, kita akan sadar bahwa skill utama yang sangat
kritikal bagi seorang marketer bukan bicara, tapi keahlian dalam MENDENGARKAN
client. 


Oleh : Made Teddy Artiana, S. Kom

Chief of Marketing Kairos System & Tecnology