Ide-ide dan kisah Inspiratif: Selamat Jalan Guruku Prof. Dr. Ir. Suhardi, S.S., M.Sc

Karena saya sangat kehilangan seorang guru saya yang sangat menginspirasi saya untuk turut membangun bangsa ini, maka kalai ini kampungwirausaha.com membuat artikel yang agak berbeda dari biasanya, yaitu soal cerita-cerita saya dengan almarhum guru saya Prof. Dr. Ir. Suhardi, S.S., M.Sc yang menurut saya sangat menginspirasi. Dan kisah kisah itu saya tulis berseri di aku facebook saya….

Monggo disimak dan diambil maknanya:

Status I : Kisah Sang Profesor Telo

Muka Pak Profesor itu ditekuk terlihat tak senang ketika melihat suguhan kami di beranda mesjid itu bentuk roti-rotian berbahan gandum. Kami panitia hanya melihat dari jauh dsambil bersungut-sungut, mengerti bahwa beliau tak suka dan tak akan memakan sajian kami itu…..

Dilain acara, maka kami mengganti sajian roti-rotian itu dengan telo (ubi atau ketela), tempe dan kripik singkong. Wah terlihat semangat dan sumringah sekali wajahnya, dan acara malam itu jadi tambah gayeng karena beliau pak Profesor bersedia bercerita tentang sebuah negeri yang baru saja beliau singgahi….

Kami yang muda-muda semangat sekali mendengar cerita-cerita tentang negeri-negeri itu, dan ingin segera mempraktekkan apa yang diajarkan dan di dapat pak Profesor dari negeri-negeri itu….

Berjalan ke depan rumah pak Prof, ada kendi tanah diatas pagar rumahnya yang pendek. isinya air putih siap minum. Dia bilang, siapapun yang lewat dari ruamahnya silahkan minum ‘ngokop’ gak pake gelas dari kendi tanah yang selalu tersedia disana….

Bayangkan nikmatnya minum air kendi setelah lelah dari sawah atau kali…

*) Mengenang Prof. SUHARDI, di Kayen bersama Masjid Nurul Hidayah Kayen

 

Status II: Oemar Bakri Pejuang Sejati

Sekali lagi ttg Alm. Prof. Suhardi…

Sekitaran tahun 97an…
Kala itu, aku masih belum paham mengapa seorang guru besar, seorang DirJen, seorang yg mestinya berkecukupan secara materi, hidup sangat sederhana, di kampung. Di Kayen, di pojok desa dekat kali…..

Aku juga belum bisa paham…
Mengapa pak Profesor satu ini sering ketemu aku sedang naik sepeda onthel tuanya menuju atau pulang dari kampus. Kupikir, sedemikian parahkah UGM tak mampu menghidupi dengan layak seorang guru besarnya? Ini persis lagu “Oemar Bakri”, bahwa sang guru naik sepeda kumbang kemana-mana….

Dulu, aku juga gak paham mengapa beliau marah-marah saat saudara-saudara kita di papua justru diperkenalkan makan nasi, dari yang sebelumnya makan umbi-umbian…..

Dulu aku pikir, beliau mengigau kala berkata bahwa INDONESIA mampu memberikan sekolah gratis hingga sarjana pada seluruh anak Indonesia yang lahir hanya dengan menanam pohon kayu saja…. Ya, hanya nanam pohon kayu saja, tiap anak di kasih 10 batang pohon kayu setiap lahiran. Dan itu bisa jadi bekal buat sekolahnya hingga sarjana…..

Ternyata,
Semua keserhanaan dan konsistensi beliau dibuktikan dengan perilakunya…
Dia konsekwen dengan kesederhanaan yang diajarkannya pada kami remaja mesjid Masjid Nurul Hidayah Kayen. Beliau menolak makan nasi dan makanan berbahan dasar gandum, selama 23 tahun terakhir. Bukan untuk gaya-gayaan, tapi sebagai konsekwensi kampanye ketahanan pangan yang selalu beliau ajarkan…..

Selamat jalan Bapak, Guru, sekaligus mentor kehidupanku….
Prof. Dr. Ir. Suhardi, S.S., M.Sc.
Semoga ALLAH meringankan hitunganmu, dan seluruh kebaikanmu didunia menjadi sebab turunnya Ridha Allah pada dikau….

 

Status III: Cemara Udang, Membantu lahan pantai menjadi  lahan produktif untuk peternakan sapi

Suatu hari aku dapat surat dari temanku di banda aceh (waktu itu belum musim chat,bbm, wong hp aja masih mahal banget). Intinya dia bertanya padaku tentang bagaimana membuat tanah pantai pasir jadi produktif dan bermanfaat bagi penduduk sekitar…..

Aku bingung jawabnya karena ilmuku gak sampai kesitu. Lalu ku bertanyalah pada seseorang tetangga di Jogja mengenai hal ini, dan beliau dengan tegas dan cepat menjawab:

PETERNAKAN SAPI!

Aku bingung, bagaimana mungkin bisa bikin peternakan sapi di pantai? Tanaman apapun sulit hidup dengan kadar garam udara yang begitu keras, bahkan tiang listrik besipun bisa hancur karena angin dari laut yang bergaram. Bagaimana mungkin bisa beternak di daerah seperti itu? Rumput makanan sapinya mau diambil dari mana? Terus terang aku kaget dengan jawaban itu…diluar dugaan, dan nyaris mustahil.

Rupanya bapak tetanggaku itu paham kebingunganku, lalu diajaklah aku ke sebuah pantai di selatan Jogja, Pantai Samas di Bantul. Disana ada pantai yang luar biasa luasnya (luas padang pasirnya maksudku). Gak ada pepohonan bisa tumbuh…..

Lalu diajak juga aku ke sisi lain dari pantai itu yang hijau dan banyak tanaman rumput gajah, makanan si sapi. Dan tentunya kandang sapi yang banyak juga…..

Lalu beliau mulai bercerita, kalau dulu tempat itu adalah padang pasir pantai. Luas, panas, gersang tanpa kehidupan. Lalu dia menunjuk ke barisan pohon berjejer di tepi pantai, membentuk seperti sabuk penahan angin laut. Ya pohon cemara!

“Dek, itu namanya cemara udang. Hanya pohon itu yang kuat terhadap ganasnya garam lautan. Dan pohon-pohon cemara udang itu berhasil menahan aliran angin bergaram tinggi hingga sampai ke sini, sehingga kini tanah disini bisa ditanami rumput gajah buat makanan sapi”, terang beliau memegang bahuku.

“Sekarang masyarakat di sini bisa ternak sapi. Dan sekaligus menanam rumput untuk makanan sapinya”, jelasnya lebih lanjut.

*Beliau tetanggaku sekaligus guruku, Prof.Dr.Ir. Suhardi, SS.,M.Sc. (alm)
*Selamat jalan bapak….aku merindukanmu, dan setiap menulis dan membaca “CEMARA UDANG”, aku terkenang namamu…..

 

guruku yang sangat bersahaja Prof. Dr. Ir. Suhardi, S.S., M.Sc

guruku yang sangat bersahaja Prof. Dr. Ir. Suhardi, S.S., M.Sc

Status IV: Pohon Kayu Sebagai Asuransi Pendidikan

Asuransikan biaya pendidikan anakmu dengan cara sangat sederhana, dan ramah lingkungan.

Modalnya hanya puluhan ribu saja….

Caranya:
Tanamlah beberapa batang pohon kayu yang bernilai tinggi seperti jati, meranti atau kayu ulin pada setiap kelahiran anakmu. Kalau tak punya lahan banyak, 10 batang saja sudah cukup. Dan panenlah masing masing 2-3 pohon di tahun ke 12 (anak tamat SD); ditahun ke 15 (anak tamat SMP); dan ditahun 18 (anak mau kuliah).

Dan setiap panen, ganti pohon itu dengan menanam pohon baru lagi.

*ide bapak (alm) Prof. SUHARDI, disampaikan padaku dan beberapa teman sekitar tahun 1999 lalu*
*mengenang dikau, tak habis-habis ilmumu berguna dan sederhana*

Status V: Tips dan trik Menabung Pohon Kayu

Masih soal asuransi (tabungan?) pendidikan dengan pohon kayu ala pak Prof. Suhardi (alm). sambungan dari status saya sebelumnya….karena banyak yang nanyain apa masih mungkin untuk sekarang itu dilakukan?

Karena ada yang bilang gak punya tanah dan yang bilang jati 12 tahun masih kecil diameternya, maka saya bilang bahwa menabung pohon itu “ide dasar”. Saya melakukannya dengan beberapa modifikasi buat asuransi/tabungan pendidikan.

Begini
Konstrain (hambatan/pembatas) saya adalah :
1. saya tidak punya tanah lahan yang cukup untuk menananm banyak pohon
2. saya terlambat melakukannya, dan butuh jangka waktu yang lebih pendek (6 tahun harus saya panen untuk biaya pendidikan)

Maka:
Saya tidak menanam pohon jati yang berumur panjang meski mahal, tapi saya menanam pohon albasia/sengon dengan perbandiangan 1 pohon jati =10 albasia/sengon, maka saya nanam 100 pohon sengon sebagai ganti 10 jati.
Umur panen albasia bervariasi antara 6-10 tahun, …..lebih pendek dari jati atau meranti atau ulin….

Trus lahannya?
Nah karena saya tak punya lahan, saya cari lahan didaerah pedalaman dan pegunungan. kebetulan ada saudara saya yang tinggal di daerah pegunungan dan banyak tanah/ lahan tak produktif. Saya sewa lahan tak produktif tersebut selama 10-15 tahun. Murah kok kalau di gunung gak produktif. Dengan modal 5 juta kita bisa dapat sekitar 0,5 (setengah) hektar, bahkan ada yang lebih murah.

Nah itu ditanamin albasia/sengon, bagi hasil sama saudara yg tinggal dekat sana untuk menjaga dan merawatnya……

Begitu…
Strategi bisa dimodifikasi sesuai keadaan masing-masing.
Sekali lagi, BE CREATIF dan sesuaikan dengan kondisi…..

Intinya,
TANAM POHON SEBAGAI SUMBANGSIH PADA BUMI DAN UNTUK TABUNGAN MASA DEPAN

====
mengenang dan menyebarkan manfaat ilmu dari pak Prof.Suhardi (alm), semoga menjadi amal jariyah beliau….
=====