Panduan Berpartner: Bagaimana Soal Pembagian Saham?

PARTNER BISNIS ( bag 2) oleh Jaya Setiabudi

Lanjutan artikel sebelumnya, sekarang lebih detail ke prosentasi saham yang ditawarkan atau dibagi.

Kenapa Ada Opsi Pemberian Saham?

Adalah untuk ikatan, terutama saat suatu perusahaan tak mampu membayar layak karyawannya atau posisinya susah tergantikan. Misalnya jika dia bekerja di perusahaan besar, bisa mendapat gaji 50 juta, di tempat Anda hanya dibayar 10 juta, maka opsi saham dapat mengikat dia.

Jika Anda di posisi investor murni (pasif), justru sebaiknya hindari saham mayoritas, kecuali perusahaan sudah sangat mapan manajemennya. Karena pemberian saham yang kecil kepada ‘founder’, akan menyebabkan gairah kerja berkurang, kecuali investasinya sangat besar.

Berapa % Pembagian Saham ke Investor?

Tergantung resiko yang ditanggungnya. Jam terbang Anda sebagai pengelola berbanding lurus dengan menurunnya angka resiko. Seorang master pengusaha seperti Pak Ciputra layak diberikan lebih dari 50% jika bekerja sama dengan investor. Karena jam terbang beliau dapat memperkecil resiko atau memperbesar faktor keberhasilan.

Jika Anda baru saja terjun ke dunia bisnis, maka prosentasi investor bisa di angka 70% keatas dan Anda hanya 30%. Saat saya mendapatkan investor kedua kalinya (di bisnis supply), saya bahkan menolak pemberian saham 50%. Saya minta diturunkan menjadi 30%. Aneh kan? Karena saya tak ingin terjadi keirian di masa mendatang. Toh saya ‘ngaca’, saat itu saya bukan siapa-siapa. Saya sangat bersyukur ada orang yang mau modali usaha saya.

Kalau Saham Penghargaan?

Istilah saham penghargaan adalah saham kosong tanpa harus bayar, diberikan kepada karyawan yang berjasa atau dianggap mampu duduk di posisi direksi. Besarannya tergantung VALUASI perusahaan tersebut. Kalau sahamnya Freeport, yang konon senilai 200 triliun (versi on the spot), ya dapat 1% aja sudah bernilai 2 triliun. Kalau membayangkan angka 2 triliun saham itu paling gampang, anggap Anda jual sahamnya dan investasikan ulang dengan return (rata-rata) 0,5% aja perbulan, maka Anda akan mendapat penghasilan pasif 10 miliar perbulan atau 330 juta perhari. Puyeng deh ngabisinnya.

Perhitungan pemberian saham, ada yang dihitung berdasar kondisi sekarang, ada juga berdasar kondisi ‘iming-iming’ (propektus), bisa juga gabungan keduanya. Misalnya, valuasi perusahaan Anda adalah 100 miliar (biar terbiasa ngomong miliar), berapa persen saham yang akan Anda berikan kepada karyawan Anda?

Hitung dahulu angka ‘gaji pantas’ untuk dia. Misalnya gaji tertinggi diluar adalah 50 juta perbulan, sedangkan Anda hanya bisa memberi sebesar angka ‘cukup’, yaitu 10 juta perbulan. Maka defisit 40 juta perbulan, bisa dikalikan masa kerja dia ditambah masa kontrak setelah saham diberikan.

jangan lupa Kacang pada kulitnya

Inti bekerja sama itu, saling mensyukuri. Jangan lupa Kacang pada kulitnya

Anggap angka tersebut adalah 5 tahun, maka nilai sahamnya (perhitungan flat) adalah 60 bulan x 40 juta = 2,4 miliar. Jika valuasi adalah 100 miliar, maka saham yang kita tawarkan sebesar 2,4%. Tentu perhitungan itu tak mengikat, hanya sebagai suatu ilustrasi. Anda bisa menggunakan variable lain. Saham juga bisa bertambah berdasar prestasi dan masa pengabdian. Sebagai pengelola penerima saham, sudah harga mati bahwa Anda HARUS FOKUS.

Sekali lagi, jangan terburu memberikan saham. Saya memilih saham sebagai bentuk terimakasih saya kepada karyawan. Ada karyawan yang saya berikan saham di usia 50 tahun, karena loyalitas beliau. Opsi pra saham, bisa gunakan PROFIT SHARING.

Apa Bedanya?

Kalau saham adalah kepemilikan yang disahkan dengan badan usaha seperti PT atau CV, sedangkan profit sharing adalah perjanjian pembagian ‘keuntungan’. Bisa jadi pembagian keuntungan lebih besar, karena tak dipotong perhitungan laba ditahan. Yang gak paham akunting emang agak puyeng, hehe.

Penyakit IRI Setelah Besar

Saat awal bisnis, pengelola (direktur) dan investor (komisaris) akur. Namun seiring perusahaan berjalan dan bertumbuh, penyakit iri sering menjangkiti pengelola. “Enak aja dia cuma modal segitu (dulu), menikmati keuntungan seumur hidupnya, tanpa kerja”.

Nah, ini serupa dengan seorang suami berkata ke istri, “Enak aja loe gak kerja, numpang hidup sama gue. Suruh cari bini 10 kali lebih cantik kayak loe, gue juga bisa (sekarang)”.

Jawab istri, “Lha mbok NGACA tho le.. DULU kamu tuh siapa? Emang ada yang mau nikah sama kamu yang lecek ledis kayak dulu? Sekarang udah ‘make-over’ jadi sombong. Dulu pas body-ku masih seksi, aku juga bisa cari yang lebih ganteng dan kaya darimu. Sekarang koq kamu mau mencampakkanku?”.

Syukuri, jangan ingkari, itu kuncinya..!

Alasan lain saya memilih berpartner adalah satu kisah nyata kawan kuliah saya bernama Aditya. Saat SMP ayahnya meninggal dan mamahnya belum menikah lagi saat saya berteman dengannya. Saya tanya, “Mamahmu tiap hari koq di rumah aja, gak kerja, trus dapat duit dari mana?”. Adit menjawab, “Dulu papahku bangun perusahaan bareng Omku. Setelah papah meninggal, sahamnya jadi milik kita. Jadi kita dapat deviden yang lebih dari cukup untuk membiayai kehidupan kita”.

Saham adalah jaminan kesejahteraan keluarga kita saat kita tiada, semacam asuransi. Tinggal siapa duluan yang pergi. Jadi jangan hitung-hitungan sama partner Anda, bisa jadi dia yang akan menjaga kecukupan keluarga Anda, saat Anda tiada nanti.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *