Panduan Berpartner Bisnis : Kapan Harus Cerai?

Kampung wirausaha pernah membahas tentang bagaimana cara mendapatkan partner bisnis yang baik, pada artikel disini. Kini kita coba membagikan silmu berpartner bisnis juga dari guru saya Jaya Setiabudi. Mari kita simak uraian beliau berikut ini:

Tak ada satupun perusahaan yang saya dirikan, saya miliki 100%. Jika pun ada, biasanya hanya sementara, yaitu di awal saja. Selain ingin berbagi, saya juga menyadari kekurangan saya, yang bisa ditutupi oleh orang lain.

Saya bukan superman, karena saya masih pakai celana dalam di dalam, bukan di luar. Mengetahui kelebihan kita dan fokus pada kelebihan adalah kunci akselerasi. Sebaliknya juga harus diimbangi dengan mengetahui kekurangan dan mencari tim untuk menambalnya.

Jadi, apa tips mencari tim?

Jelas, yang pertama ketahui kekurangan Anda dan cari mereka yang mampu menutupinya. Misalnya, saya unggul sebagai konseptor dan eksekutor awal. Meskipun paham ilmu manajemen, tapi kurang tekun dalam mengelola administrasi di kantor. Dalam konteks Yukbisnis.com, saya juga bukan programer. Saat awal eksekusi Yukbisnis, saya outsource programnya. Setelah jadi, baru rekrut tim programer dan perlahan membenahi manajemen.

Bagi pengusaha pemula yang modalnya cekak, tak perlu buru-buru masuk ke ranah manajemen yang detail. Setiap awal bangun usaha, saya mulai dari diri saya dan mulai dari ‘kanan’, yaitu pemasaran. Laporan keuangan hanya keluar-masuk duit (cashflow statement). Jangan hire orang akunting kalau belum untung, pemborosan.

Kapan Saham diberikan?

Biasanya saham saya berikan setelah beberapa tahun kinerjanya teruji dengan waktu. Itupun dengan syarat, minimum 3 tahun (dari pemberian saham) menetap di perusahaan. Meski itu semua bukan jaminan. Manusia adalah makhluk sosial, mudah berubah oleh lingkungan dan keadaan. Intinya: jika sudah mau memberikan saham, ya anggap saja sedekah, jangan berharap lebih. Maka dari itu jangan buru-buru memberikan saham, karena kepemilikannya seumur hidup, seperti menikah.Partner Sejati dalam Berbisnis

Ciri-ciri Partner yang Bagus?

AKHLAQ kemudian ILMU. Jangan terbalik yaa..! Saya tak mengatakan agama lho, karena agama urusan masing-masing. Saya juga punya partner yang beda agama dan lebih akur daripada yang sama agamanya. Terpenting: Tak ada 2 jendral dalam 1 peperangan. Dan setiap jendral memiliki teritori masing-masing. Kalau akhlaq saja tanpa ilmu? Maka Anda hanya akan mendapatkan loyalitas, tapi perusahaan kurang bisa bertumbuh. Kecuali dia memiliki semangat belajar yang tinggi. Kalau pinter tapi songong abis? Biasanya bakal sering ribut.

data base toko online 1nop-2des17

Kalau Tak Sejalan?

Jika mindsetnya sudah seperti menikah, artinya terima mereka apa adanya dan pertahankan pernikahan dengan KOMITMEN. Ribut-ribut dengan partner sudah biasa, yang penting tidak benci atau dendam. Jika kita beriman, salinglah mendoakan agar sama-sama dapat hidayah dan diberi kerendahan hati.

Kalau Porsi Kerjanya Tak Berimbang?

Dalam pernikahan, apakah porsi Anda dengan pasangan Anda berimbang? Jarang sekali ditemukan yang berimbang, kecuali saling menutupi. Sekelas Nabi Muhammad aja membutuhkan dukungan Khadijah saat ‘ketakutan’ atau ‘down’. Ada yang bagian dapur, ada yang bagian tempur. Jika salah satu ngambek, ya diamkan dahulu, the show must go on. Biasanya berjalan waktu, akan sembuh kembali. Kan dulu ‘default-nya’ rajin, bukan pemalas. Mungkin momentumnya sedang drop, karena sesuatu.

Kapan Harus Cerai?

Paling Telak adalah kalau MALING, bukan karena ‘beda visi’. Saya paling sering dengar ‘beda visi’ sebagai alasan untuk berpisah. Namun setelah digali mendalam, karena ego yang tak mau kalah. Kalau beda ‘value’? Ya kalau sudah gak ada hati, ada aja alasannya, silakan pisah, abis itu ‘ngepel’ diri.

Kalau Selingkuh?

Lihat dulu dosis dan alasannya. Jangan-jangan karena kita yang tak adil sebagai pemimpin. Fokus saja memperbaiki diri dan menunjukkan kinerja/karya kita, in syaa Allah cinta akan datang kembali. Marah dan menyalahkan adalah respon manusiawi, tapi tak akan menghasilkan solusi.

berpartner bisnis gak perlu harus babak belur duluTerpenting, kalau mau berpartner harus ‘legowo’ alias besar hati. Hal-hal kecil gak perlu dibesarkan apalagi ‘baper’. Jika harus ribut, jangan karena uang, memalukan. Tinggalkan saja harta/saham yang kita miliki, asalkan jiwa kita tetap bersih. Duit gampang dicari lagi, kredibilitas tak mudah dibangun.

Maaf bagi yang masih jomblo, mungkin susah membayangkan.

PARTNER BISNIS ( bag.1) oleh Jaya Setiabudi
bersambung ke ARTIKEL INI

sabun cair goats milk Aneila

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *