Panduan Wirausaha: Bagaimana Membeli Waralaba

Waralaba/Franchise: Keliru mengeksekusi pembelian waralaba karena tersihir oleh trend

Sejak tahun 2005, waralaba atau franchise menjadi booming di Indonesia. Banyak mantan karyawan yang baru saja di PHK atau pensiun, menggunakan uang pesangonnya untuk membeli bisnis waralaba.

Sayangnya, semangat berbisnis itu tidak didukung data yang benar dan terlanjur menganggap bahwa dengan membeli waralaba, berarti telah mendirikan bisnis yang mudah diaplikasikan dan memiliki tingkat keberhasilan sangat tinggi. Pemahaman dangkal seperti ini yang menyebabkan kekeliruan membeli bisnis waralaba. Banyak orang dengan mudahnya membeli waralaba karena alasan-alasan berikut:

Tertarik karena publikasi media saja.

Apa yang ditawarkan dalam iklan, memang sangat menggiurkan. Mulai fitur investasi rendah, singkatnya BEP, besarnya keuntungan yang dapat diraih, sampai janji garansi uang kembali.

Bisnis waralaba, tetaplah sebuah bisnis yang tunduk pada proses bisnis. Perbedaannya dengan bisnis biasa adalah sistem manajemennya yang sudah baku dan mudah diduplikasi. Sedangkan proses bisnisnya tetaplah sama. Sebagai sebuah bisnis, keputusan untuk membeli waralaba harus tetap mempertimbangkan segala aspek: PRODUKSI, PEMASARAN, SDM, dan KEUANGAN.

Untuk membeli sebuah waralaba, sebaiknya pertimbangkanlah kemampuan, “apakah saya mampu menangani 4 aspek utama tersebut?”

Banyak pembeli waralaba pemula hanya mempertimbangkan investasi yang rendah, merek terkenal, dan jajni keuntungan yang akan didapatkan. Seakan-akan, ada anggapan bahwa setelah menyetor uang kepada pemilik waralaba, maka bisnis kita akan berjalan sempurna sesuai rencana. Siapa bilang???

Sebagian besar pembeli waralaba yang berguguran karena keliru mengeksekusi bisnis seperti ini. Pemahaman aspek produksi, pemasaran, SDM, dan keuangan yang sangat kurang, dan tidak mau bekerja keras untuk menjalankan bisnisnya. ujung-ujungnya, si pembeli menghujat franchisor (pemilik waralaba), frustasi, dan menyebarkan berita jelek soal bisnis waralaba.

Sebenarnya ini tidak perlu terjadi jika jeli sebelum membeli waralaba. Lebih baik, setlah anda tertarik pada salah satu waralaba, segeralah pelajari 4 aspek dasar bisnis tersebut. Jika merasa mampu untuk menanganinya, ambillah. namun jika tidak, ada baiknya berpikir lagi sambil belajar dulu.

Percaya pada angka, buka realita

Penawaran waralaba, selalu disertai proposal bisnis. Pastilah proposal ini sangat menarik, karena yang bikin proposal kan si pemilik waralaba. Ini adalah sebagian dari usaha memasarkan waralaba itu sendiri. Yang awam terhadap bisnis, tentulah sangat terkagum-kagum dengan penjelasan dalam proposal. semua pertanyaan seakan sudah ada jawabannya, dan jawaban itu masuk akal pula. Sehingga segeralah kita mengambil keputusan untuk membeli waralaba itu.

Sadarkah apa yang telah dilakukan? Karena sangat percaya dengan proposal dan penjelasannya, eksekusi telah dilakukan, dan ini sebuah kekeliruan kedua. Apanya yang keliru?

Ingat, angka-angka dalam proposal adalah asumsi. Angka-angka itu adlah perkiraan yang tertulis diatas kertas, bukan realita. Bisnis adalah realita. Baiklah, kita ungkap satu persatu:

  • Tujuan pemilik waralaba membuat proposal adalah untuk menarik investor. Jadi apakah mungkin franchisor akan menuliskan tentang kerugian bisnisnya? NO! Yang tercantum dalam proposal, pastilah hanya keuntungan, padahal tidak ada bisnis yang untung terus.
  • Angka-angka di dalam proposal adalah asumsi, lalu mengapa terburu-buru dengan asumsi keuntungan?
  • Pada proposal, tidak semua franchisor mencantumkan laporan keuangan yang telah diaudit oleh akuntan publik dalam 3 tahun terakhir berturut-turut. Padahal, sebagai bukti penting bahwa bisnis ini menguntungkan, adalah laporan keuangan yang selalu untung dalam 3 tahun berturut-turut.

Sampai disini, bagi yang sudah terlanjur membeli waralaba, apakah yang harus dilakukan? Menyesali? Oh, no! Tentulah itu tidak bijaksana. Bisnis harus tetap jalan terus. Pelajari kembali 4 aspek bisnis itu…

Bagi yang belum membeli waralaba, inilah yang harus anda lakukan:

  • Jangan percaya 100% terhadap proposal. Mintalah laporan keuangan 3 tahun terakhir perusahaan itu. Hak anda meminta laporan keuangan kepada franchisor dijamin oleh UU. Jadi, jangan takut memintanya!
  • Setelah memperoleh data-data diatas kertas, segeralah turun ke lapangan. Cek langsung keadaan sebenarnya. Amati selama beberapa waktu bagaimana bisnis tersebut berjalan. Gunakan intuisi anda. Jika menurut anda bisnis itu bagus, ambillah, dan persiapkan diri anda menjadi franchise sejati yang siap menjalankan semua proses bisnis, bukan sebagai investor malas yang tak mau membesarkan bisnisnya.

Oke, itulah hal-hal yang mungkin berguna bagi anda yang ingin membeli bisnis waralaba. Bisnis tetaplah bisnis. Selalu ada proses yang harus dijalankan. Selamat mencari waralaba yang baik!

 

3 Comments

Arief Budi Satria

luar biasa sekali pak lurah!!! kembali menyadarkan saya bahwa bisnis adalah bisnis,,sebuah realita yg harus di hadapi dengan kerja keras, bukan cuma mimpi dengan menginvest sejumlah modal dan tinggal menikmati hasil karna jaminan selembar proposal manis. mungkin pak lurah bisa menjelaskan UU apa yg bisa jadi acuan saat kita ingin meminta laporan keuangan dari franchisor?? mohon di jelaskan, terima kasih.

Reply
Pak Lurah

Bapak Arief Budi Satria; ini ada di
PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 31/M-DAG/PER/8/2008 TAHUN 2008
TENTANG PENYELENGGARAAN WARALABA

Pasal 1 :6
Prospektus penawaran waralaba adalah keterangan tertulis dari pemberi waralaba yang sedikitnya menjelaskan tentang identitas, legalitas, sejarah kegiatan, struktur organisasi, keuangan, jumlah tempat usaha, daftar penerima waralaba, hak dan kewajiban pemberi dan penerima waralaba.

Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *